Uncategorized

Kaulah Sayap Di Hidupku

Dewasa memang tidak memandang usia. Dewasa bisa tumbuh karena keadaan, seperti kakakku yang menjadi dewasa semenjak kedua orangtuaku meninggal dunia satu tahun yang lalu. Ia masih kelas dua SMA saat orangtuaku meninggal dan aku masih duduk di kelas dua sekolah dasar. Aku belum begitu mengerti arti kehilangan saat ayah dan ibu meninggal. Bahkan sampai sekarang aku masih mengharapkan ayah dan ibu kembali. Sekarang aku menyadari perjuangan kakak setelah satu tahun aku harus patuh dengan semua peraturan yang kakak berikan. Ingin kuucapkan kata maaf pada kakak saat mengingat kejadian setelah kedua orangtuaku meninggal. Dulu aku menganggap semua itu kekangan, sekarang aku mengerti itu bentuk kasih sayang kakak padaku.

“Arif… Ayo bangun, Arif bangun…” Ujar kakakku yang berusaha membangunkanku saat adzan subuh berkumandang.

“Hmmm…” Aku hanya memalingkan wajah.

“Arif, kakak mohon kamu bangun. Arif, kakak mohon. Sekarang kita hanya berdua di rumah ini. Tolong kamu ikuti kakak untuk sekarang, kakak juga harus masuk sekolah. Arif, kakak mohon kamu bangun” Pinta kakak sambil menangis.

“Iya ka, ini Arif bangun. Kenapa? Ada apa?” Jawabku lemas.

“Ayo kamu mandi dan sholat subuh. Setelah itu kamu pakai seragam sekolahnya dan sarapan”.

“Kakak… ini masih pagi sekali kenapa sudah siap-siap ke sekolah?” Tanyaku kesal.

“Arif, kakak mohon kamu patuh dengan ucapan kakak ya. Kakak harus memasak dan membersihkan rumah sebelum berangkat. Nanti setelah semua selesai kita berangkat, kamu kakak titipkan di rumah teman kakak dekat sekolah kamu. Kamu tunggu disana setelah pulang sekolah, nanti kakak akan menjemput kamu disana. Tolong patuh sama kakak” Jelas kakak.

Tanpa sepatah katapun aku beranjak dari kamar tidur menuju ke kamar mandi. Aku mengintip dari lubang kunci kamar mandi ternyata kakak begitu sibuk. Berlari kesana kemari menyapu lantai, kemudian berlari ke dapur memastikan api di tungku kompor tetap menyala dan menyiapkan alat makan di meja makan. Setelah aku selesai mandi kakak menghampiriku dan memberikan baju koko dengan sarung, menyuruhku untuk sholat subuh sendiri karena kakak sudah shalat terlebih dahulu.

“Kakak… Arif mau tidur lagi ya, kan masih pagi” keluhku selesai shalat subuh.

“Arif… kakak mohon kamu nurut sama kakak ya. Sini makan sayang” Rayu kakak yang sedang menyiapkan sarapan.

“Kenapa harus seperti ini ka, Arif lelah setiap hari seperti ini. Ayah dan ibu kemana kak. Sudah satu bulan Arif hanya dengan kakak. Arif rindu Ayah dan Ibu” Ujarku sambil menangis.

“Arif.. sini duduk dulu”. Perintah kakak padaku.

“Baiklah”

“Arif tau surga?”.

“Tidak” Jawabku singkat.

“Surga itu tempat indah yang Allah siapkan untuk orang yang taat dengan semua perintah-Nya. Ayah dan Ibu Insya Allah sekarang sedang disana”

“Kapan bisa pulang kesini ka?. Arif tidak akan meminta oleh – oleh apapun dari surga, Arif hanya ingin Ayah dan Ibu kembali” Pintaku.

“Tidak akan pulang kesini lagi. Mereka akan melihat kita dari atas, Arif harus rajin supaya mereka bahagia. Arif ikuti saja apa yang kakak katakan ya”

“Begitu ya ka”.

“Iya, sayang”.

“Baiklah, Arif akan ikuti semua yang kakak katakan”. Ujarku meski belum mengerti apa yang di katakan kakak tentang surga.

“Arif makan ya, kakak mencuci pakaian dulu”

“Kita makan bersama saja ka” Ajakku.

“Tidak, kakak belum lapar. Setelah selesai kamu pakai seragam sekolah ya”

“Iya ka”

Jam menunjukkan 05.30, aku berangkat sekolah dengan kakak naik motor. Sampai disekolah, suasana begitu sepi. Kakak menitipkanku pada temannya yang rumahnya tidak jauh dari sekolahku. Kak Ika namanya. Ia adalah teman baik kakak saat SD. Kak Ika sudah tidak sekolah lagi karena tidak ada biaya untuk melanjutkan pendidikan.

“Ika, nanti sepulang sekolah Arif aku titipkan disini ya. Atau setidaknya biarkan dia menungguku di depan rumahmu” Pesan kakakku pada temannya.

“Jangan begitu, nanti adikmu biar disini sampai kamu pulang. Aku akan menjaganya untukmu, Nita. Jangan seperti orang asing denganku ya”. Kata Kak Ika.

 

Setelah berpamitan denganku dan temannya, kakakku berangkat ke sekolah. Menunggu jam sekolah masuk aku diajak teman kakakku nonton kartun di televisi. Ia hanya tinggal dengan nenek dirumahnya, katanya ayah dan ibunya sibuk kerja. Tetapi tidak pernah pulang membawa uang banyak. Ia bercerita tentang kakakku, aku tidak begitu mengerti yang ia bicarakan. Aku hanya mengerti jika kakak adalah teman terbaiknya.

Tak terasa bel masuk telah berbunyi. Kak ika mengantarku sampai depan gerbang. Aku berlari menuju kelas bersama teman-teman. Melihat teman – teman yang diantar oleh orang tua masing – masing aku menjadi sedih mengingat Ayah dan Ibuku yang tak kunjung pulang kerumah.

Sepulang sekolah, aku menunggu kakak di rumah kak Ika. Aku menunggu kakak datang lama sekali. Sekolahku selesai jam dua belas dan kata kak Ika, kakakku selesai sekolah jam dua. Beruntungnya kak Ika memang orang yang baik hati. Aku bermain dengan kak Ika sampai terlelap tidur.

Ada suara motor yang mengusikku tidur, kurasa itu suara motor milik kakak. Aku langsung bangun dan mengintip dari jendela kamar. Ternyata itu memang benar kakakku. Aku segera berlari keluar dan memeluknya dengan erat. Kemudian kami berpamitan pada kak ika. Sesampainya dirumah kakak mengajakku untuk ke rumah tetangga yang memiliki usaha membuat kerajinan tangan. Kakak berniat untuk bekerja padanya, kakakpun diizinkan dan langsung membawa alat-alatnya kerumah untuk bisa dikerjakan dirumah.

Sesampainya dirumah kakak menyuruhku untuk tidak bermain keluar. Di desa kami memang sedang ramai berita penculikan anak kecil. Kakak takut aku akan di culik. Jadi, ia memilih mengekangku untuk tidak keluar rumah tanpa dirinya.

Sore hari aku menghabiskan waktu hanya menonton televisi. Sedangkan kakak sibuk membereskan rumah dan memasak untuk makan kami. Masakannya tidak begitu enak, terkadang rasanya hambar. Terkadang terlalu asin. Tapi, kami selalu menghabiskan makanan itu. Aku selalu ingat ketika sesuap makanan masuk kemulut kami dan kami selesai menelannya, kami kemudian menertawakan rasa masakan itu bersama. Kakak tidak marah padaku. Justru meminta maaf. Kemudian kami melanjutkan makan bersama sampai makanan itu tak tersisa sedikitpun.

“Arif, maaf ya masakan kakak rasanya tidak enak. Tapi setidaknya kita masih bisa makan. Arif tau diluar sana banyak sekali orang yang kekurangan makanan. Bahkan ada yang mencari makan di tempat sampah. Jadi mulai sekarang Arif tidak boleh membuang makanan sedikitpun selagi makanan itu halal dan tidak berbahaya”. Pesan kakak padaku saat kami selesai tertawa bersama.

“Iya kak, Tidak apa – apa. Rasanya tidak terlalu buruk. Besok pasti rasanya akan lebih baik”. Ujarku pada kakak.

Itu terjadi setiap hari pada kehidupanku dan kakakku semenjak Ayah dan Ibu meninggal.

*  *  *

Sekarang aku sudah sekolah kelas tiga SMP. Kakakku masih kuliah. Ia berusaha keras membagi waktu untuk bekerja dan belajar. Meski biaya yang harus dikeluarkan sekarang begitu banyak, tetapi kakak tidak mengizinkanku untuk bekerja membantunya. Aku hanya disuruh untuk belajar dengan rajin dan berhemat. Tanpa peintah darinya, aku akan memaksa diriku untuk berhemat. Karena memang hanya itu yang bisa aku lakukan. Aku membawa bekal dan minum ke sekolah agar tidak mengeluarkan uang jajan. Meski banyak teman yang mengejekku tapi aku tidak malu, aku mengelabuhi mereka agar mereka menyesal telah mengejekku.

“Aku tidak suka makanan yang dibuat orang lain. Sejak Ayah dan Ibu meninggal aku tidak pernah memakan makanan selain yang dibuat kakakku. Kalau sekarang aku harus membeli makanan di kantin atau memakan masakan yang lain, aku takut rasanya berbeda. Makanan ini yang membuatku bisa pintar mengalahkan kalian di kelas, kalau aku berhenti memakannya nanti aku dikalahkan kalian bagaimana. Karena kalian sudah tau rahasia kepintaranku, aku tidak akan membagi makanan ini kepada siapapun”. Kataku saat ada yang mengejekku.

Sejak memahami arti dari meninggal dunia, aku tidak pernah lagi menanyakan mereka pada kakak. Tapi, aku masih sering merasakan rindu kehadiran mereka. Mungkin yang kakak rasakan jauh lebih berat dari yang aku rasakan. Aku tidak bisa membayangkan betapa lelahnya kakakku saat itu. Setiap pagi harus menyiapkan semua keperluanku, sepulang sekolah kakak harus bekerja dan malam harinya meski begitu lelah ia tetap belajar dan mengajariku. Setiap hari harus menenangkan rengekanku untuk bertemu Ayah dan Ibu. tapi sekalipun kakak tidak pernah marah padaku. Mungkin sebenarnya kakak sangat lelah dan marah tetapi pengendalian diri yang dilakukan kakak sungguh menakjubkan. Meski kakak telah kehilangan kedua sayap di kehidupannya sejak kecil tapi kakak berusaha menjadi sayap dalam hidupku. Kakak tidak pernah menggantungkan hidupnya pada orang lain. Berharap belas kasihan orang lain karena statusnya yang yatim piatu. Kakak begitu menakjubkan. Sungguh menakjubkan. Meski kehilangan, tapi kakak berusaha bangkit. Aku baru menyadari semua kakak lakukan karena kakak menyayangiku. Tidak bisa kubayangkan jika kakak tidak peduli padaku, mungkin saja aku telah menjadi anak yang tak terurus. Terimakasih kakak kau telah menjadi sayap di hidupku, meski kau sendiri kehilangan sayap tapi kau tak membiarkan itu terjadi padaku. Terimakasih kau telah menjadi ayah, ibu, kakak sekaligus teman dan guru dalam kehidupanku.

Aku akan berusaha untuk tidak mengecewakanmu. Aku akan belajar dengan tekun dan rajin. Meski kita bukan dari keluarga terpandang aku akan berusaha dunia memandang.

 

 

#Fiksi #NulisRandom2017

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s