Uncategorized

Napoleon Hill – Penulis Motivasi Bisnis dan Penasihat Presiden Franklin D. Roosevelt 1933 – 1936.

Napoleon hill lahir dari keluarga yang miskin dan buta huruf. Saat ia kecil Ibunya meninggal dan ayahnya menikah dengan seorang perempuan terdidik yang mendongkrak keadaan keluarganya. Ibu tirinya menyuruh ayah Napoleon untuk kuliah di Sekolah Kedokteran Gigi saat usianya menginjak empat puluh tahun. Ibu tirinya menjadi kekuatan Napoleon untuk bangkit. Penanaman pemikiran sederhana yang diajarkan berhasil membuat Napoleon bangkit. Dia menanamkan pemikiran bahwa “Jika orang berpikir dia bisa mencapainya, dia akan bisa mencapainya”. Pengaruh lain yang didapat dari sosok ibu tirinya yaitu ia bisa mengetahui dan mengumpulkan pengetahuan dari Alexander Graham Bell dan Andrew Carnegie, yang memberikan pengaruh kepada Napoleon untuk bisa melanjutkan penelitian dan juga memberikan banyak data penting untuk menemukan filosofi hukum kesuksesan.

Suatu ketika Napoleon di tugaskan untuk menuliskan kisah – kisah sukses para pemimpin bisnis ternama bagi majalahnya. Pertama ia menemui Andrew Carnegie. Napolen menghabiskan waktu 3 hari 3 malam untuk mewawancarai Andrew Carnegie. Dalam wawancara tersebut, Andrew Carnegie memberikan tantangan kepada Napoleon. Napoleon memerlukan waktu 29 detik untuk menjawabnya. “Bagus”, sahut Carnigie sembar menyimpan jam tangan emas ke sakunya kembali. “Padalah tadinya saya bermaksud memberikan jam ini pada anda jika anda mampu menjawab dalam waktu 60 detik”. Dari peristiwa ini muncul suatu keyakinan pada diri Napoleon, bahwa : “Orang sukses mengambil keputusan secara cepat dan mengubahnya pelan – pelan. Sedangkan orang gagal lambat mengambil keputusan namun seringkali mengubahnya”.

Perjalanan hidup yang dilalui Napoleon, membuatnya memiliki tujuh belas prinsip hukum kesuksesan, yaitu master pikiran, pentingnya mempunyai tujuan pasti, kepercayaan diri, kebiasaan menabung, punya inisiatif dan berjiwa pemimpin, imajinasi, antusiasme, pengendalian diri, melakukan lebih dari yang diminta, kepribadian yang menyenangkan, berpikir akurat, konsentrasi, kerjasama, menfaat kegagalan, toleransi, memanfaatkan aturan emas untuk memenangkan kerjasama dan kebiasaan sehat. (untuk lebih jelas memahami hal ini kalian bisa membacanya di buku The Magic Ladder to Success karya Napoleon Hill).

Dari sekian banyak prinsip hukum kesuksesan yang di tawarkan oleh Napoleon, bisa kita tarik satu kesimpulan bahwa membantu orang lain merupakan kunci utama meraih kesuksesan. Kita hidup di alam semesta saling membutuhkan satu sama lain. Saya membutuhkan mereka. Merekapun membutuhkan saya. Entah di belahan bumi bagian mana. Jadi, kita tidak bisa menyangkal bahwa kita membutuhkan orang lain.

Di era modern, persaingan semakin ketat dan bergerak begitu dinamis. Bahkan kerap terjadi persaingan yang tidak sehat, saling menipu, saling mengadu domba atau bahkan saling membunuh. Semua bukan menjadi hal tabu lagi bagi kita. Untuk menjadi pemenang, kita tidak perlu melakukan itu semua. Jangan mengambil jalan pintas. Jika hukum rimba masih berlaku, bukankah hukum karma juga masih berlaku sampai detik ini?. Hukum rimba yaitu “Siapa yang kuat adalah pemenang”, ia tidak peduli apapun cara yang dilakukan, entah saling menusuk, menipu atau bahkan membunuh yang pasti yang kuat adalah pemenang. Hukum karma yaitu “Apa yang kita lakukan kepada orang lain, suatu saat akan kembali kepada kita lagi”. Jika kita melakukan kejahatan, kita akan mendapatkan kejahatan yang sama atau bahkan lebih buruk lagi.

Jadilah orang sukses dengan cara yang baik. Tidak dengan merugikan orang lain. Meski orang lain tidak ada yang peduli, tetaplah menjadi pribadi yang baik. Bukankah batu sebesar dan sekeras apapun akan terkikis jika terus menerus di tetesi air?. Jadi, kalau ada orang lain sedang terpuruk dalam kesengsaraan kita harus menolongnya. Bantu mereka keluar dari permasalahan yang dihadapi. Sebab, dengan begitu kita akan semakin sukses. Jangan memandang remeh orang yang sedang mengalami kegagalan, berilah mereka dorongan. Kalian masih ingat tentang tokoh – tokoh ternama yang sukses, bukankah mereka pernah mengalami kegagalan. Teman, sebuah kegagalan bukan akhir dari kehidupan bisa saja itu merupakan awal kesuksesan. Begitu pula, jika kita sedang mengalami kegagalan. Jangan sok hebat, kalau ada yang mau memberi saran, dengarkan baik – baik. Mengapa kita diciptakan dengan satu mulut dan dua telinga? Itu karena Sang pencipta menginginkan kita lebih banyak mendengar daripada berbicara.

Gunakanlah simbiosis mutualisme untuk meraih sebuah kesuksesan. Kita tidak hidup sendiri. Kita membutuhkan orang lain untuk maju. Jangan sombong dan pelit ketika sukses, dan jangan merasa hebat saat ada orang yang ingin membantu kita keluar dari jurang keputusasaan dan kegagalan.

Teman, jika kita tidak terlahir dari keluarga terpandang jangan tundukkan pandangan. Berdirilah dan berjalan dengan tegap. Buatlah pesona menakjubkan agar dunia memandang.

 

 

#Helptheproblem #Besmart #Keepfighting #Tokoh #Motivation

#NulisRandom2017

Motivation

Walt Disney – Pendiri Walt Disney Company

Walt Disney, pencipta disneyland dan mickey mouse, menghabiskan kebanyakan masa kecilnya bermain diladang. Buruknya kesehatan ayahnya membuat keluarganya menjual ladang dan pindah ke kota. Disana, disney dan saudara laki – lakinya harus bangun setiap jam 3 pagi setiap hari untuk mengantarkan koran agar bisa memenuhi kebutuhan hidup. Disney mulai memasuki sekolah dasar pada tahun 1910. Namun karena harus mengantarkan koran setiap pagi, maka di kelas Disney sering tertidur, melamun atau mengigau.

Disekolah menengah atas, Disney merupakan kartunis (pembuat tokoh kartun) untuk koran sekolah. Disney juga mulai mengambil kursus malam di Chicago Art Institute. Sayangnya saat usia 16 tahun, Disney drop out dari sekolah menengah atas karena untuk bergabung dengan Angkatan Darat Amerika. Tetapi karena usianya masih terlalu muda, maka ia bergabung di American Red Cross dan St John’s Ambulance dengan memalsukan identitas kelahirannya dari 1901 menjadi 1900.

Pada akhirnya ia berhasil bahkan namanya di kenal seluruh pelosok dunia. Teman Disney diangkatan darat yaitu, Ray Croc, pendiri Mc. Donald, pernah sekali waktu dia berkata : “Ketika kami memiliki waktu libur dan pergi ke kota untuk mengejar gadis – gadis, dia tinggal di barak untuk menggambar”.

Teman, kesuksesan bukan berasal dari orang yang terlahir dari keluarga kaya dan berwajah tampan. Sukses bisa berasal dari siapa saja, entah dia kaya atau miskin, tampan atau jelek, tidak dapat mempengaruh kesuksesan seseorang. Kesuksesan itu datang dari orang yang penuh semangat dan kerja keras tanpa pantang menyerah.

Tidak perlu munafik, kita semua ingin sukses bukan? Tetapi kenapa kita cemas ketika menghadapi masalah yang menghadang. Memang menempuh kesuksesan itu sangat panjang, berliku, penuh sekali simpangan yang menyesatkan, terkadang mulus, penuh duri serta kemungkinan tak terduga dari alam. Biarkan saja semua berjalan seperti itu. Tidak perlu menyalahkan siapapun. Tetapi, ketika saat kita mengalami musibah – musibah seperti itu, kita harus bangkit dan melanjutkan perjalanan dalam rangka mengejar impian. Tidak perlu terburu – buru memutuskan sesuatu untuk melanjutkan perjalanan. Satu keputusan besar akan mempengaruhi kita dimasa depan. Orang sukses akan mengambil keputusan secara tepat dan mengubahnya pelan – pelan, sedangkan orang gagal lambat mengambil keputusan namun seringkali mengubahnya.

Teman, sekali lagi aku ingatkan!. Jika kita bukan terlahir dari keluarga terpandang buatlah dunia memandang. Buatlah orang – orang kagum dengan keahlian kita, kemampuan kita dan kecerdasan kita. Teruslah berjalan untuk mencapai mimpi. Jika merasa mimpi itu sulit dan menyakitkan saat dipertahankan lepaskanlah semuanya. Tapi kita perlu ingat satu hal bahwa suatu saat akan ada masa untuk kita mengatakan “Andai saja dulu….”, karena akan ada banyak penyesalan yang tak tergantikan. Bertahan dengan sebuah mimpi dan harapan yang besar memang sakit, tapi kita akan lebih sakit lagi jika kehilangan mimpi itu. Jadi, hiduplah dengan sebuah mimpi dan harapan besar. Setidaknya jika itu tidak tercapai sampai akhir hidup kita, masih ada mimpi dan harapan – harapan kecil yang menenangkan.

 

#Tokoh #Motivation #WaltDisney

#NulisRandom2017

Uncategorized

Seleksi Calon Pekerja

Masih belajar dari Albert Einstein, seorang fisikawan asal Jerman. Pernah saya mendengarkan sebuah cerita tentang Einstein dalam menyeleksi calon pekerja untuk dirinya. Banyak orang yang datang menemui Einstein untuk bekerja padanya. Satu persatu dari mereka dipersilahkan melakukan wawancara. Penyeleksian ini langsung ditangani oleh Einstein. Saat calon pekerja masuk, Eintein akan mempersilakan duduk dan ia menyuruh hal sederhana kepada calon pekerja.

“Di hadapanmu ada sup yang lezat, tapi rasanya agak kurang asin. Tolong garami sup itu agar rasanya pas”. Kata Eintein kepada calon pekerja.

Kebanyakan orang gagal menjalankan perintah sederhana tersebut. Mereka tidak lolos seleksi. Apa yang salah?

Sebagian besar dari pelamar langsung memasukan sesendok garam ke dalam sup. Melihat aksi yang dilakukan calon pekerja tersebut, Einstein langsung bereaksi dengan menyuruhnya pergi.

Lalu? Bagaimana supaya calon pekerja bisa lolos dan menjadi pekerja?. Kalau ingin lolos seleksi ini, seharusnya si pelamar mencoba terlebih dahulu supnya. Apakah ungkapan yang dikatakan benar atau tidak?. Dengan mencoba ia akan tau rasa sup tersebut. Manis?, Asin? Asam? Atau yang lain. Dan dengan mencoba sup, dia jadi tahu seberapa banyak garam yang harus dibubuhkan pada sup.

“Ini cara kerja sains yang paling mendasar. Kita harus terlebih dulu melihat fakta sebelum memberikan kesimpulan dan melakukan tindakan. Kalau cara hal paling dasar begini saja tidak melekat di diri seseorang, dia tak akan sukses menjadi saintis”. Jelas Einstein.

Belakangan ini kita bisa perhatikan banyak orang yang langsung membubuhi garam tanpa mencicipi supnya terlebih dahulu. Mengatakan orang lain sesat. Kenal saja belum. Ketemu saja belum. Baca karyanya saja belum. Kenal latar belakang sosial budaya ekonomi dan pendidikannya saja belum. Sudah melabeli orang tersebut sesat dan bla, bla, bla…

Menangkap orang dan menyiksa orang lain. Dipelajari kasusnya saja belum. Dibuktikan tersangka saja belum. Diadili saja belum. Sudah belagak layaknya hakim yang adil, berani memberikan hukuman yang hanya berdasarkan emosi.

Menyebarkan berita hoax. Baca berita menyeluruh saja belum. Melihat sinkronisasi dengan realitanya saja belum. Asal judul berita sesuai selera langsung share.

Langsung jatuh cinta tergila-gila. Melihatnya attitude ketika ia susah saja belum. Melihat bagaimana dahsyatnya ia menahan amarah saja belum.

Terlalu mudah untuk menjudge sesuatu hanya berdasarkan opini yang menyebar atau berdasarkan emosi belaka. Tidak menghiraukan fakta dan realita yang ada. Tidak memikirkan perasaan orang lain.

Melabeli sebuah pemikiran itu seutuhnya buruk. Belajarnya saja belum. Baca bukunya saja belum. Menjelajahi sejarah untuk paham konteks hitorisnya saja belum.

Kalau begitu, benar kata Einstein. Kita warga dunia yang tidak akan pernah sukses jadi orang berilmu.

 

#Besmart #Motivasi #Tokoh #Ilmuwan #AlbertEinstein

#NulisRandom2017

Uncategorized

Jatuh Cinta Anak Sains

Jatuh cinta? Siapa sih yang tidak pernah merasakan jatuh cinta?. Eitss, jatuh cinta ngga selalu dengan lawan jenis. Jatuh cinta itu masih sangat multitafsir. Bisa jatuh cinta dengan Allah, seperti Rabiah Al adawiyah dan sebagainya. Memang sudah jalannya seperti itu. Jatuh cinta itu sulit untuk dijelaskan dengan kata – kata. Tapi bisa dirasakan dengan ketulusan hati. Kalau jatuh cinta yang dibahas disini sih tentang jatuh cinta dengan lawan jenis.

Entah mengapa semua terasa indah dan menawan saat sedang jatuh cinta. Sebagai seorang perempuan aku pernah merasakan sebuah rasa “spesial” kepada seorang laki – laki. Wah dia rajin ibadah ya, wah dia laki – laki yang pintar, wah diaa…. dan wah –wah yang lain. Percayalah!, kalalu kita menemukan seorang laki – laki tampan kita akan menemukan laki – laki yang lebih tampan. Dan tidak akan ada habis – habisnya.  Sekedar saran, lebih baik fokus ibadah dan sibukkan diri dengan beribadah. Jangan berlebihan dalam memikirkan jodoh apalagi menunggu seseorang yang belum pasti menjadi jodoh kita. Kagum itu manusiawi kawan. Kurasa itu manusiawi sekali dan terjadi pada semua orang. Kagum akan sosok laki – laki yang sholeh, bijaksana, cerdas dan berjiwa pemimpin. Tapi, sebagai seorang perempuan cerdas kita harus bisa mengendalikan rasa kagum itu.

Einstein pernah mengatakan jika “Hukum gravitasi tidak berlaku pada orang yang sedang jatuh cinta. Dan produksi dopamin (hormon yang memicu kebahagiaan) dalam otaknya sedang meningkat”. Memang benar, saat seseorang sedang jatuh cinta ia seakan sedang tidak menampakkan dirinya dibumi. Raganya memang dibumi. Tetapi jiwanya sedang melayang diudara entah dibelahan semesta bagian mana. Dunianya sudah penuh dengan bunga yang bertebaran atau ia seakan sedang merasakan menari diatas taman bunga yang bermekaran. Otaknya sudah penuh dengan seseorang spesial itu. Apapun yang dilakukan selalu tertuju pada seseorang spesial itu. Oleh karena itu, ketika kita sudah terlena dengan seseorang memang sulit untuk diperingatkan dan dinasehati. Karena dunianya sudah berbeda dengan yang lain.

Aku pernah merasakan hal itu. Milyaran orang di dunia hanya dia yang mempunyai daya tarik. Awalnya karena kagum kemudian dekat dan merasakan banyak kesamaan. Mulai dari sama dalam hobi, sama dalam genre musik sampai sama kebiasaan. Banyak hal yang terasa menjadi milikku dan milik dia menjadi sama. Sayangnya, kita berada dikutub yang sama. Sama – sama selatan atau sama – sama utara. Katanya  kalau banyak kesamaan bisa disatukan. Tapi hubungna kita nampaknya mengikuti hukum magnet yang tidak bisa saling tarik menarik ketika berada dikutub yang sama.

Untuk beberapa saat akupun terlena. Karena masalah hati merembet kuliahku terbengkalai, ngaji dan urusanku kepada Tuhan tak kuhiraukan. Malangnya aku saat itu, entah bagaimana jadi hidupku bila terus – terus begini. Yang aku tau saat itu hanyalah aku memang ingin sendiri menggila dengan persepsi jiwa, bahkan Tuhanpun aku tidak ingin bersamanya. Sungguh benar – benar gila karena masalah hati aku menodai akal sehatku. Beruntungya aku segera tersadar dan kembali menjalani aktivitas seperti biasanya. Namun sampai sekarang aku masih belum paham dengan pesan Mu itu Tuhan, kenapa Engkau membuatku terus mencintainya. Bahkan sampai detik ini, aku hanya merasakan jatuh cinta sekali dan tak pernah pudar atau berpindah kelain hati. Sementara aku tidak pernah tau cintanya untuk siapa? Bisa saja bukan untukku.

#NulisRandom2017

Motivation

Albert Einstein – Fisikawan Asal Jerman

Albert Einstein, ikon dari kejeniusan dan intelektual. Bagi anak – anak sains, bisa jadi Einstein adalah idola yang membanggakan. Tahukah kamu? Einstein menderita apa? Disleksia, kelainan belajar karena kesulitan mengenali abjad dan kata. Penderita disleksia biasanya tidak bisa membedakan antara b dan d, kesulitan dalam merapikan kancing baju, kesulitan dalam mengikat tali (Untuk lebih jelasnya kalian bisa menonton film taree zameen yang dirilis pada tahun 2007). Tapi kemudian didalam kehidupan, Einstein mendapatkan penghargaan dari kemajuannya dengan teori relatifitas pada kelambanannya, mengatakan bahwa dengan mempertimbangkan ruang dan waktu lebih lambat dari kebanyakan anak – anak, dia mampu mengaplikasikan intelektual yang lebih berkembang.

Tahun 1894, Einstein tetap tinggal sendirian di Munich untuk melanjutkan sekolahnya, karena kegagalan bisnis yang dialami ayahnya membuat keluarganya pindah dari Munich ek Pavia. Namun ia hanya sekolah selama satu semester dan menyusul keluarganya ke Pavia. Einstein tidak sekolah lagi dan tidak memiliki sertifikat sekolah menengah pertama.

Namun kemudian Einstein mengikuti ujian masuk ke Swiss Federal Institute of Technology dan menguasai ilmu pengetahuan dan matematika. Tapi, Einstein mengalami kegagalan di ujian seni. Setelah itu Einstein di kirim ke Aarau, Switzerland oleh keluarganya untuk menyelesaikan sekolah menengah pertama. Di Aarau, Switzerland Einstein belajar teori elektromagnetik dan menerima diplomanya pada September 1896.

Pada kenyataannya Einstein adalah “Pelajar yang bermasalah”, tetapi dia terus belajar mencari suatu jalan lain untuk memecahkan masalah yang dihadapinya. sampai bisa menjadi ilmuwan besar yang tak terbantahkan di abad ke 20.

Adakah seseorang yang tidak pernah mendapatkan masalah? Sadar atau tidak, semua orang tanpa terkecuali pernah membuat dan mendapatkan masalah. Jika kita bekerja pada satu instansi, bukankah kita telah menciptakan masalah baru dalam hidup kita? Jika kita memutuskan untuk kuliah, bukankah kita telah menciptakan masalah baru?, sama halnya saat kita merasa kecewa dengan kegagalan yang kita peroleh,  kita telah menciptakan masalah baru.

Lalu, bagaimana menyelesaikan masalah tersebut? Setelah membuat masalah, tugas kita selanjutnya adalah memecahkan masalah. Apakah memecahkan suatu masalah akan sama caranya seperti sewaktu kita menciptakan masalah? Ternyata tidak. Kita tidak bisa memecahkan masalah dengan cara yang sama seperti saat kita membuat masalah itu. karena untuk dapat memecahkan masalah kita membutuhkan keahlian, kesabaran, dan kepribadian yang jauh lebih hebat daripada sewaktu kita membuat masalah.

Masalah datang dalam proses pendewasaan hidup. Jangan sepelekan suatu masalah dan tetap optimis untuk bisa memecahkan masalah tersebut. Karena tidak ada masalah yang melebihi batas kemampuan kita. Jika kita diberi permasalahan yang menurut kita berat berarti kemampuan kita sudah meningkat. Allah lebih mengerti seberapa jauh kemampuan yang kita miliki. Ingatlah, diatas permasalahan yang kita alami ada kekuasaan maha besar yang tak tertandingi. Jadi, tetaplah berusaha memecahkan masalah dan kembalikan semua kepada kehendak dan kuasa Allah. 🙂

 

#Bedifferent #Tokoh #Motivation #Ilmuwan #Fisikawan

#NulisRandom2017

Motivation

Thomas Alva Edison – Penemu Lampu

Siapa yang tidak kenal dengan Thomas Alva Edison, ilmuwan yang berhasil memberikan sinar pada dunia. Sinar yang membuat malam kita tak gelap lagi. Sinar yang menemani malam belajar kita. Tanpa lampu pijar kita hanya mempunyai dua sinar yaitu sinar mentari dan sinar bulan. Di pagi dan siang hari, kita tidak merasa kegelapan karena mentari mampu bersinar sampai ke sudut dunia. Namun ketika malam sudah tiba, bisakah kita bertahan hanya dengan mengandalkan sinar dari sang dewi malam?. Coba kita bayangkan saat listrik mati dan baterai ponsel kita lemah. Hanya sekedar berjalan menuju pintu saja kita menabrak kesana kemari. Bisa kita rasakan betapa besar penelitian yang ditemukan oleh Thomas Alva Edison?.

Penemuan lampu oleh Thomas Alva Edison adalah bukti bahwa semakin banyak kegagalan, semakin besar buahnya. Bayangkan saja, kalau Thomas Alva Edison menyerah saat mengalami kegagaln pada proses penemuan yang ke 1.799 kali. Apakah namanya akan kita kenal samapi sekarang? Apakah malam – malam yang kita lalui akan terang  benderang? Tentu tidak!.

Maka dari itu, mulai sekarang marilah kita buang jauh – jauh pikiran negatif kita atas kegagalan – kegagalan yang kita alami. Bisa saja jika kita mencoba satu, dua atau berapa kali kita akan meraih keberhasilan itu. Kegagalan bukan sebuah akhir dari kisah hidup yang kita lalui. Kegagalan hanya satu dari sekian ribu cara yang telah kita lalui untuk menuju sukses. Pandanglah sesuatu dari sisi yang berbeda. Bukan dari satu sisi yang menjadi pandangan umum dunia. Coba nilai sesuatu dari segala arah dengan berbagai cara. Kegagalan adalah hal yang baik jika kita bisa memahaminya. Kita memang memerlukan motivasi dan dorongan dari orang lain. Namun jika kita tidak bertindak, apalah arti semua itu? 99% keberhasilan yang kita peroleh bukan dari kata – kata motivasi dari orang lain, tapi dari usaha yang kita lakukan baik berupa perbuatan maupun do’a.

Mimpikan saja dulu apa yang bisa membuat kita sukses. Tapi kita perlu ingat, bahwa dunia bukan hanya tentang mimpi yang kita inginkan, melainkan tentang mimpi yang kita wujudkan. Aku pernah berharap duniaku seindah mimpiku. Terkadang aku juga terlena dengan mimpi itu, terlalu sibuk memikirkan mimpi yang ada dalam otakku. Namun harapan dan mimpi itu harus tetap ada untuk memberikan semangat menjalani hidup. Meski mimpi kita terlalu tinggi, tetaplah bermimpi. Meski terlalu berharap itu sakit. Tapi berhenti berharap berarti putus asa.

Teman, tetaplah bermimpi dan memimpikan hal – hal besar diiringi dengan harapan tinggi dan di wujudkan dalam perbuatan yang disertai do’a.  🙂

 

#Jangantakutbermimpi #Bebrave #Motivation #Tokoh

#NulisRandom2017

Uncategorized

Kill Me Know

Aku menyesal telah mengenal virus remaja yang bernama jatuh cinta. Awalnya aku kira itu akan seindah yang orang lain katakan. “Jatuh cinta sejuta rasanya”, begitu kira – kira orang mengatakannya padaku. Ternyata duniaku berbeda dengan mereka. Saat aku mulai merasakan jatuh cinta aku justru mulai kehilangan ketangguhan diriku. Sungguh, itu membuat duniaku kacau berantakan. Kuliah yang tadinya aku rajin dan baik – baik saja disetiap kesempatan mendadak menjadi bingung tak karuan.

Aku merasa jatuh cinta dua bulan yang lalu, tepatnya di usiaku yang ke sembilan belas tahun. Untuk pertama kalinya aku mengerti bahwa aku sedang jatuh cinta pada seseorang.

Berawal dari sebuah tugas individu yang dia tak pahami. Aku memang bukan anak cerdas yang selalu mendapatkan IPK sempurna di kampus. Hanya saja aku dikenal sebagai anak rajin yang cepat mengerti apa yang disampaikan. Dengan alasan itu, ada seorang anak laki – laki yang tiba – tiba mengirim pesan padaku dihari deadline pengumpulan tugas.

Ponselku berdering, tanda ada pesan whatsapp masuk. Aku berjalan mengambil ponsel dan membukanya. “Pesan dari teman kelasku yang suka tebar pesona” gumamku dalam hati.

“Selamat malam Vira”.

“Iya selamat malam juga Ryan, ada apa ya?”

“Kamu tugas membuat laporan penelitiannya sudah?”

“Sudah, kenapa?”

“Aku mau minta di ajarin. Kapan kamu ada waktu?”

“Hari apa dulu?”

“Kalau malam ini? Bagaimana? Besok tugasnya sudah harus dikumpulkan bukan?”

“Iya”

“Kamu dimana?”

“Di perpustakaan kampus”

“Masih lama?”

“Kalau mau mengerjakan tugas kamu kesini saja”.

“Aku siap – siap dulu”.

Aku hanya membaca pesan darinya. Dan kembali membaca buku yang sedari dati sedang aku baca. Aku kira dia tidak akan datang. Jadi, aku tidak menunggunya. Beberapa menit kemudian saat aku hendak keluar dari perpustakaan Ryan datang menghampiriku.

“Kamu mau kemana?”

“Pulang, aku kira kamu tidak kesini”.

“Aku tadi sudah bilang bukan, kalau aku harus siap – siap dulu”.

“Iya”. Ujarku. “Kamu tidak membawa apapun?” Lanjutku.

“Aku kira kamu di perpustakaan sudah membawa laptop dan buku, jadi aku hanya membawa flashdisk dan ponsel”.

“Astaga, yang butuh kamu kenapa aku yang harus menyediakan?” keluhku.

“Kamu tidak membawa laptop dan buku?” Tanya Ryan celingukan.

“Tidak, aku kesini hanya ingin meminjam novel bukan mengerjakan tugas. Ya sudah kita pulang saja, lagi pula kamu sudah tidak serius ingin menyelesaikan tugas.” Jawabku ketus sembari meninggalkan dia.

“Tunggu Vira” Teriak Ryan diluar perpustakaan.

“Ada apa lagi?”

“Kamu disini tinggal di asrama bukan? Kita ke sana ambil laptop kamu dan kemudian mengerjakan tugasku, bagaimana?” Usul Ryan.

“Aku pikirkan dalam mimpiku ya”.

“Ayolah Vira, ku mohon, besok sudah deadline”. Pinta Ryan sambil merayu.

“Iya. iya. Ya sudah ayo sekarang”. Jawabku dengan kesal.

“Ayo”. Sahut Ryan.

“Kamu tunggu sini saja”. Ujarku melihat Ryan yang terus mengikutiku dari belakang.

“Aku akan menjagamu, supaya tetap aman sampai tujuan”.

“Bilang saja takut tidak membantumu mengerjakan tugas”. Gerutuku.

Ryan menunduk. Namun tetap mengikutiku dari belakang. Aku pun terdiam tak mengatakan apapun lagi. Hanya berjalan cepat menuju asrama.

“Sudah sampai. Kamu tunggu disini, jangan ikuti aku lagi” Perintahku pada Ryan saat sudah sampai di depan pintu asrama putri. Ryan mengangguk.

Beberapa ribu detik kemudian aku keluar membawa laptop dan chargernya.

“Sini aku bawakan, kita kerjakan di mana Vira?” Tanya Ryan.

“Kita kerjakan di taman dekat kampus saja, jam segini ke kampus menyeramkan. Sudah sepi”. Saranku.

“Ide yang bagus”

Aku dan Ryan berjalan menuju ke taman berdampingan. Ryan memang benar – benar pandai tebar pesona dan tidak mau menyerah. Sampai akhirnya aku bisa tidak seketus pertama kali bertemu dengannya.

Sejak saat itu, Ryan sering menghubungiku. Entah alasan tugas atau hanya sekedar rindu yang membelenggu. Terkadang mengajakku keluar untuk makan, tapi terus saja aku tolak. Seseorang yang tadinya asing bagiku menjadi sangat dekat.

Lama kelamaan menimbulkan rasa nyaman yang tak seharusnya ada. Rasa bahagia saat dia berkunjung. Rasa marah saat dia menyebalkan. Sampai rasa memiliki yang sebenarnya ilusi.

Semua berjalan baik – baik saja dan tanpa ada perasaan canggung. Sampai akhirnya, tadi aku berjumpa dengannya di kampus. Saat itu aku sedang membaca novel sendirian di kantin sambil makan cemilan ringan. Ryan datang menghampiriku. Menyapaku dengan hangat dan duduk disampingku. Aku hanya tersenyum dan membalas sapaan darinya. Kemudian kembali sibuk membaca tiap lembaran novel yang ada didepanku. Ryan tidak peduli bahwa aku sedang membaca, dia terus saja berbicara meski tidak aku tanggapi. Tak lama kemudian datang seorang perempuan anggun yang duduk di depan Ryan. Perempuan berkulit sawo matang dengan tinggi semampang dan berparas manis dengan dandanan yang anggun.

“Ryan, ini kamu tadi pesan jus jeruk. Mie gorengnya nanti ya masih di buatkan” Ujar perempuan itu sembari memberikan jus jeruk itu pada Ryan. Aku terkejut melihat hal itu. Tapi aku berusaha tidak peduli. Aku menundukkan wajahku kembali ke novel yang sedang aku baca.

“Vira, dia bagaimana menurut kamu?” Bisik Ryan padaku saat perempuan itu kembali pergi untuk mengambil minumannya yang sudah di pesan.

“Sempurna” Ucapku singkat.

“Benarkah?. Memang pilihanku itu selalu tepat kan Vir?” Gumam Ryan. Aku mengangguk.

Setelah perempuan itu kembali. Aku berpamitan dengan alasan ada jam kuliah.

“Tuhan, betapa bodohnya diriku. Aku kira dia menyukaiku. Memang semua salahku. Terlalu cepat untuk menyimpulkan sesuatu yang semu. Ternyata aku memang hanya seorang teman yang bisa dia manfaatkan. Aku tau faktanya sekarang. Meski kejadian tadi tidak memberikan penjelasan apapun, tapi cukup membuatku mengeluarkan airmata. Sekali lagi aku menjadi orang bodoh karena dirimu. Kali ini aku mnejadi orang bodoh yang menangisi hal bodoh yang seharusnya aku abaikan. Tuhan, kata orang jatuh cinta itu indah. Tapi kisahku, haruskah sesakit ini? Jika jatuh cinta padamu saja membuatku bodoh lebih baik kau pergi dan tak kembali. Tuhan, jika kisahku sesakit ini biarkan aku hidup tanpa cinta. Aku tak ingin merasakan sakit untuk hal yang sama. Atau lebih baik aku berada disisi – Mu agar aku hanya merasakan cinta dan kasih sayang dari – Mu. Aku tidak ingin terluka lagi. Panggil aku secepat mungkin. Ku mohon Tuhan”. Celotehku setelah sampai di kamar asramaku.

Jika cinta membuatku berubah dan terluka untuk kedua kalinya. Lebih baik aku hidup tanpa cinta. Daripada harus menjadi orang bodoh karena merasa terluka untuk hal yang sama.

Uncategorized

Jam Tangan Kakek

Aku hampir tak percaya. Seseorang yang kuanggap menyukaiku ternyata sedang memandang foto perempuan lain. Tanpa dia sadari aku sudah berdiri lama dibelakangnya melihat dia memandang perempuan itu.

Ketika dia menengok kearah belakang. Dia melihatku dan segera menyembunyikan foto yang tadi dipandangnya. Tanpa sepatah katapun aku berjalan mengikuti langkahnya menuju tempat parkiran. Aku berangkat dan pulang sekolah selalu bersamanya. Banyak teman kuliah yang menawarkan tumpangan padaku. Aku selalu meolak dan memilih untuk bersama Sena dengan naik sepeda. Tidak heran jika ada yang menyebut kami sebagai dua sejoli yang tak dapat di pisahkan.

Siang bolong yang penuh sinar matahari, tiba – tiba diriuhkan dengan suara petir. Angin berhembus kencang menemani langit yang tengah meneteskan air hujan. Sepertinya alam tau bahwa aku sedih melihat sena memandang foto perempuan itu. Bagiku saat hujan turun bukan pada musimnya maka alam sedang bersedih.

Derasnya air hujan memaksa Sena berhenti untuk mengayuh sepeda. Ditambah beban tubuhku yang berat badannya 38 Kg. Meski berat badanku 8 Kg dibawah berat badan Sena,  hembusan angin yang semakin kencang menjadikan Sena sulit mengayuh sepeda. Kami pun memutuskan untuk berteduh di sebuah kedai minuman.

Dengan masih menggunakan Jas kampus kami memasuki kedai minuman dan memesan wedang jahe untuk menghangatkan badan. Sena terus saja mengajakku berbicara. Tapi otakku terus memikirkan foto perempuan itu. Penasaran sekali rasanya. Rasa kecewa, sedih dan penasaran memenuhi otakku. Sampai aku tidak ingin mendengarkan apa yang dikatakan Sena kepadaku.

Saat hujan mulai reda, Sena mengeluarkan uang dari dompet untuk membayar minuman yang kami minum. Aku melirik isi dompet Sena, berharap dia menyimpan fotoku. Ternyata semua tak seperti yang aku bayangkan. Dia menyimpan foto perempuan lain yang bukan diriku. Foto seorang perempuan yang dipandangi Sena sejak di kampus. Seorang perempuan angun yang berparas cantik dengan baju pink berhijab.

Rasanya ada pisau tajam yang menusuk tubuhku, melihat seseorang yang selama ini kusayangi ternyata menyimpan sebuah foto perempuan yang aku pun tak tau siapa dia sebenarnya. Aku mulai bertanya-tanya kepada diriku sendiri. Siapakah wanita berparas cantik itu?

“Andin…. Kamu kenapa?” Ucap Sena mengejutkanku yang sedang melamun.

“Bingung…” Jawabku seketika.

“Lho..? Bingung kenapa?”

Tanpa kusadari jawaban itu tiba-tiba meluncur dari bibirku. Mendengar Sena yang menanggapi jawabanku, aku diam seribu bahasa. Apa jadinya jika aku mengatakan aku cemburu kepada Sena. Aku mencari berbagai alasan yang masuk akal. Sampai aku menemukan ide untuk mengatakan kebingungan tentang hadiah yang akan aku berikan kepada Sena saat ulang tahunnya yang ke dua puluh tahun.

“Hmmm.. Besok kamu mau aku beri kado apa ya?” Kataku berharap Sena percaya pada ucapanku.

“Aku kira ada sesuatu. Ya sudah, ayo pulang.. Hujannya sudah berhenti.” Kata Sena menarik tanganku.

Aku hanya mengangguk pelan. Memaksakan senyuman indah dibibirku. Berusaha untuk menyembunyikan rasa cemburuku itu.

***

Sabtu, 20 Februari 2016, hari ulang tahun Sena yang ke 20. Hari yang telah kunanti. Namun, hari indah yang kuharapkan entah mengapa hilang begitu saja. Semua berubah menjadi gelap dan tak berarti.

Kupandangi tetesan air hujan yang turun dari langit. Kulelah menanti hujan, sampai kulihat sosok mirip Sena berlari menuju rumahku. Ternyata itu bukan imajiansiku. Sena datang kerumahku.

“Ada apa? Oh ya Happy birthday ya, semoga kamu mendapatkan yang terbaik. Maaf tidak bisa hadir, cuacanya tidak baik untuk keluar rumah.” Kataku sambil memberikan bingkisan berisi syal rajutanku sendiri.

“Iya terimakasih. Iya, lebih baik kamu dirumah daripada harus pergi dibawah derasnya air hujan. Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja. Karena kamu adalah orang yang aku harapkan di acara ulang tahunku. Tapi, tidak apa-apa. Melihat Andin baik-baik saja cukup membuatku bahagia”. Kata Sena.

“Baiklah.” Jawabku

“Sena, ketika aku mencintai seseorang aku tidak pernah menyesal karena itu pilihan terbaikku. Aku mencintai dia bukan karena ingin dia mencintaiku. Aku hanya mencintai dia karena aku memang menyukai dia. Entah dia suka atau tidak denganku itu tidak ada hubungannya dengan perasaanku. Kuharap kamu akan mendapatkan yang terbaik” Ucapku pada Sena sambil berusaha tersenyum.

“Kamu aneh. Iya, aku harap kamu juga akan mendapatkan yang terbaik. Kamu tahu orang yang aku cintai tak pernah mengerti perasaanku. Tapi aku tak pernah sedikitpun berfikir untuk meninggalkannya”. Jawab Sena kebingungan.

“Beruntung ya dia.”

“Andin, maaf jika selama ini aku menghalangi keakrabanmu dengan orang yang kamu suka”. Ujar Sena sambil tersenyum dan berpamitan untuk pulang. Tak menghiraukan hujan yang bertambah deras.

Sejak saat itu, Sena menjauhiku.

Kini kehidupanku tak semenarik dulu lagi, aku terus menertawakan diriku sendiri karena merasa sebagai seorang pecundang yang tak dapat mengungkapkan perasaan diriku sendiri. Kini baru kurasakan setelah tak bersamanya, aku merindukannya bahkan sangat merindukannya. Jika ia sekarang disini akan kupeluk dengan erat dan menangis sejadi-jadinya dipelukkannya.

Dengan pasti dan tanpa adanya keraguan sedikitpun kulangkahkan kaki ini untuk kerumah Sena. Aku menemuinya didepan teras rumahnya.

Beberapa detik berlalu, aku hanya diam tak ada respon sedikitpun. Dalam benakku mulai muncul pikiran-pikiran aneh bahwa ia mulai  melupakanku. Sena mulai memandang wajahku yang tepat berada di depannya. Mungkin ia sangat terkejut karena menemukanku sudah  berada di depannya saat ini. Masih dengan wajah bingung dan tanpa mengucap apapun,  ia langsung memelukku dengan erat  tanpa berfikir bahwa aku mulai sesak nafas karena ia peluk terlalu kuat. Aku tak bisa menghindari pelukannya yang begitu cepat.

“Sena… Apakah kau merindukanku ?’’ tanyaku kepada Sena masih dalam pelukannya.

“Hmmm… Bahkan sangat merindukanmu Andin. Kenapa kamu menghilang tanpa kabar.”

“Sena… lepaskan pelukanmu ini. Tak sepantasnya  kamu melakukan ini“. Kataku terengah-engah karena Sena memelukku semakin erat.

“Maafkan aku Andin, aku sangat merindukanmu. Menjauhimu bahkan membuatku semakin tersiksa.”

“Kenapa kamu merindukanku. Bukankah sekarang kamu sedang bahagia dengan perempuan itu ?” kataku sambil memasang wajah sedih.

“Maksud kamu?” Tanya Sena kebingungan dan melepaskan pelukannya.

Tiba – tiba ada seseorang yang berlari menabrakku. Aku terjatuh. Jam tanganku diambil.

“Jam tanganku mana? Tak kusangka, aku akan kehilangan jam tangan untuk yang kedua kalinya??” Tanyaku dalam hati dengan cemas.

“Andin… Jam tangan kamu mana?” Tanya Sena ketika melihat tanganku. Tanpa berfikir panjang Sena menarik tanganku mengejar orang itu.“Kenapa kamu diam saja Andin?? Bukankah jam tangan itu sangat berarti? Ayo kita kejar orang itu.? Jangan diam saja.”  Lanjut Sena

“Dia masih mengingatnya. Bahkan dia tidak lupa arti jam tangan itu bagiku. Senangnya..” Ujarku dalam hati dengan senyum bahagia.

“Sena…” panggilku lirih dengan meneteskan airmata.

Sena terus berlari menarik tanganku. Ternyata setelah berlari cukup lama jam tangan itu dapat ditemukan. Jam tangan itu terjatuh di rerumputan. Sena melepaskan tanganku dan berlari menuju jam tangan itu. Dibersihkan lumpur yang menempel di jam tangan itu.

“Syukurlah, jam tangan ini masih hidup. Kau tidak akan pernah kehilangan jam dari almarhum kakek kamu.” Kata Sena penuh senyuman.

“Aku tak menyangka Sena masih ingat. Aku harus menyatakan perasaanku meski ditolak. Aku akan melanjutkan perjalanan cinta ini. Harus aku selesaikan karena cinta ini sangat indah. Meski ditolak aku akan tegar dan akan baik-baik saja. Iya aku harus mengatakan yang sebenarnya pada Sena”. Ujarku dalam hati.

“Andin… aku ingin mengatakan sesuatu”. “Sena… aku ingin mengatakan sesuatu”. Ucapku dan Sena bersamaan.

“Kamu duluan”. Jawabku.

“Sebenarnya saat acara ulang tahunku kemarin aku ingin mengatakan aku menyukai kamu Andin”. Kata Sena dengan gugup.

“Tapi, bukankah kamu sudah dengan perempuan di foto itu?”

“Maksud kamu?”

“Keluarkan dompet kamu” perintahku pada Sena. Dengan pipi yang semakin kemerahan Sena memberikan dompetnya dengan menunduk.

“Ini foto siapa?” Lanjutku sembari memperlihatkan foto seorang perempuan pada Sena. Sena langsung menarik dompetnya.

“Astaga…Lihat baik-baik Andin, aku jadi malu…”. “Ini foto kamu saat perpisahan. Ketika kamu sedang sibuk mencari jam tangan kamu yang hilang. Aku berusaha memotret kamu dengan kamera di handphoneku. Memang fotonya tidak jelas, tapi ini foto kamu Andin. Aku suka sama kamu”. Jelas Sena.

“Apah ??!” Jawabku kaget.

“Ia sejak pertama aku melihat kamu di acara perpisahan itu. Aku menyukai kamu. Apa kamu mencintaiku seperti aku mencintaimu?”

Aku mengangguk pelan dengan menunduk penuh senyuman bahagia. Sena pun terlihat bahagia. Pipi merahnya memudar dengan lengkungan bibirnya yang keatas. Matanya berbinar – binar membuatku semakin bahagia.

Adzan dhuhur berkumandang. Sena mengajakku shalat berjama’ah. Saat Lengan tangan kanan ku angkat untuk berwudhu. Jam tangan itu tidak ada. Betapa gelisah aku mencarinya. Ternyata jam tangan itu ada ditangan Sena. Aku bernafas lega. Jam tangan kakek telah membuat kenangan baru yang indah. Mengukir kisah cintaku dengan Sena. Terimakasih kakek. Semoga kenangan ini akan terus abadi seperti kasih sayangmu padaku kek.